Materi Pelatihan Mandiri Topik Merdeka Belajar Modul 2

Pelatihan Mandiri Topik Merdeka Belajar Modul 2 Mendidik dan Mengajar - Sebelumnya, Ibu dan Bapak telah menyelesaikan Post Test Topik Merdeka Belajar Modul 1, itu artinya, Ibu dan Bapak dapat melanjutkan ke materi berikutnya yaitu Materi Topik Merdeka Belajar Modul 2.

Bagi Bapak / Ibu guru yang kesulitan mempelajari Materi yang disampaikan dalam paparan video, kali ini Sinau-Thewe.com menyediakan Reviu Materi Pelatihan Mandiri Topik Merdeka Belajar Modul 2 Mendidik dan Mengajar.

Sekolah atau satuan pendidikan seringkali dipersepsi sebagai tempat mengasah kecerdasan kognitif semata. Sementara kehidupan kita percaya tidak hanya memerlukan kecerdasan kognitif, ada kecerdasan dan keterampilan hidup lain yang diperlukan untuk menjalani hidup.

Kita percaya bahwa sekolah dan pendidikan merupakan bekal untuk murid kita mengisi masa depan. Pertanyaannya, apakah hal-hal yang Ibu dan Bapak Guru lakukan setiap hari di ruang kelas bisa membantu murid mengisi masa depannya? Pada modul ini kita akan bersama berefleksi mengenai praktik mengajar kita apakah sudah cukup menyiapkan murid di masa depan? Terdapat tiga tahapan untuk dapat menyelesaikan Modul 1 ini yaitu :

Pada Modul 2, ada tiga materi yang akan dipelajari antara lain :
  • Mendidik Menyeluruh
  • Pendidikan selama satu abad
  • Menjadi manusia (secara) utuh



A. Materi Aktivitas "Mendidik Menyeluruh"



Salam dan bahagia Ibu dan Bapak guru. Selamat datang di Modul Mendidik dan Mengajar. Modul ini terdiri dari beberapa materi yang akan kita pelajari bersama. Kali ini kita akan membahas materi mendidik menyeluruh berdasarkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara. agar kita dapat memahami gagasan-gagasan Dewantara mengenai tujuan pendidikan nasional.

Ibu dan Bapak guru, pemahaman terhadap kata “pendidikan dan pengajaran” kadang masih membingungkan. Penggabungan istilah tersebut dapat mengaburkan pengertian yang sesungguhnya. Pengajaran adalah suatu cara menyampaikan ilmu atau manfaat bagi kehidupan anak-anak secara lahir maupun batin. Maka, pengajaran merupakan salah satu bagian dari pendidikan. Sama halnya dengan mengajar yang merupakan salah satu bagian dari mendidik. Sementara Pendidikan adalah tempat menaburkan benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat sekaligus sebagai instrumen tumbuhnya unsur peradaban agar kebudayaan yang kita wariskan kepada anak cucu kita di masa depan.

Ki Hajar Dewantara mendefinisikan pendidikan sebagai tuntunan yaitu tuntunan dalam hidup tumbuhnya murid. Maka Mendidik adalah menuntun segala kodrat yang ada pada murid agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik itu sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Ibu dan Bapak guru, murid diciptakan sebagai makhluk yang memiliki kodrat untuk mereka hidup dan tumbuh. Pendidik tidak dapat menentukan dan berkehendak akan hidup tumbuhnya murid. Yang bisa pendidik lakukan adalah menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan-kekuatan itu dengan mengerahkan segala daya upaya untuk memajukan perkembangan budi pekerti, pikiran, dan jasmani murid agar dapat memperbaiki perilakunya bukan dasar hidup dan tumbuhnya itu.

Layaknya seorang petani yang menanam padi, ia hanya dapat menuntun tumbuhnya padi, mengusahakan kondisi yang terbaik agar padi dapat tumbuh sesuai dengan kodratnya. Petani mungkin dapat memperbaiki keadaan tanaman padinya atau bahkan menghasilkan tanaman padi yang lebih besar daripada tanaman padi yang tidak dipelihara. Bagaimanapun ikhtiar yang terbaik yang dilakukan oleh petani untuk tumbuhnya padi tidak akan dapat membuat tanaman padi itu tumbuh menjadi tanaman jagung atau tanaman lainnya.

Seperti itulah peran pendidik yang bisa menuntun agar murid bisa tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodratnya. Pendidikan tidak hanya berbentuk pengajaran yang memberikan pengetahuan kepada murid tapi juga mendidik keterampilan berpikir, mengembangkan kecerdasan batin, dan pada akhirnya murid dapat melancarkan hidup untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan.

Ibu dan Bapak guru, ilmu dan pengetahuan sangat diperlukan sebagai bagian dari pendidikan, sebagai kunci untuk mengasah keterampilan berpikir, memajukan kecerdasan batin, dan melancarkan hidup pada umumnya. Oleh karenanya, pendidikan pikiran atau intelektual murid sebaiknya dibangun setinggi-tingginya, seluas-luasnya dan selebar-lebarnya agar murid dapat mewujudkan perikehidupan lahir dan batin dengan sebaik-baiknya.

Sebagai pendidik kita perlu cermat dalam menempatkan pendidikan pikiran murid sesuai dengan konteks pendidikan nasional berdasarkan garis-garis bangsanya atau kultural nasional yang akan melengkapi, mempertajam, dan memperkaya pendidikan keterampilan berpikir murid. Setiap murid memiliki kekuatan kekuatan yang memerlukan tuntunan orang dewasa. Menuntun potensi murid bertujuan agar ia semakin baik adabnya dan untuk mendapatkan kecerdasan yang luas sehingga ia terlindungi dari pengaruh-pengaruh yang dapat menghambat bahkan melemahkan tumbuhnya potensi atau kekuatan dirinya.

Ada murid yang tidak memiliki kesempatan mendapatkan tuntutan yang baik sehingga ia cenderung tidak dapat menumbuhkan dan mengembangkan kekuatan atau potensinya dengan maksimal. Ada juga murid yang mendapatkan tumbuh dengan baik namun kekuatan atau potensinya tidak dapat tumbuh atau berkembang karena adanya pengaruh-pengaruh yang membatasi tumbuh kembangnya potensi yang ia miliki.

Sebagai orang dewasa kita dapat berupaya membangun dan menjaga suasana lingkungan yang kondusif agar setiap murid dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodratnya. Seumpama dua garis yang saling tarik-menarik dan saling mempengaruhi yang pada akhirnya berujung menjadi satu. Dua garis itu adalah garis dasar yang menggambarkan potensi dari murid dan garis keadaan yang menggambarkan kesempatan untuk berkembang. kedua garis ini saling berhubungan yang menurut ilmu pendidikan disebut konvergensi.

Buah dari tuntunan kepada murid adalah berkembangnya akal budi murid yang mendorong terciptanya kebudayaan. Kebudayaan bangsa yang menjadi ciri khas dan dasar perubahan zaman ditengah-tengah kebudayaan-kebudayaan negara lain membuat kita kadang-kadang khawatir akan tergerusnya kebudayaan kita. Meskipun adat istiadat atau kebiasaan di masyarakat berubah karena akal budi manusia juga berkembang. Kebudayaan Bangsa Indonesia akan tetap ada menjadi pilar utama dalam memajukan pendidikan nasional. Contohnya kebudayaan gotong royong membersihkan dan menghias kelas, serta sekolah yang melibatkan murid dapat menumbuhkan karakter dan kecakapan sosial emosional.

Guru dapat memberikan praktek pembelajaran yang mengembangkan kerjasama, empati menghargai sesama dan berkontrIbusi sosial kepada sesama. Sehingga murid dapat menemukan dan terbekali dengan kebudayaan kebudayaan bangsa yang jika terus-menerus ditumbuhkan. Maka kebudayaan bangsa akan semakin kuat dan tentu saja akan membantu murid atas kehidupan dan penghidupannya. Dan yang paling utama dan yang paling penting yang dapat membantu keberlangsungan hidup sebagai bangsa Indonesia.


Lalu bagaimana dengan pembelajaran di kelas kita saat ini. Apakah kita sudah mendidik anak dengan menyeluruh atau mungkin kita hanya sebatas mengajar? Mari kita refleksikan bersama-sama. Asalam dan bahagia Ibu Bapak guru hebat.


B. Materi Aktivitas "Pendidikan Selama Satu Abad"



Selamat datang kembali di Modul Mendidik dan Mengajar. Kali ini kita akan mengulas Materi Pendidikan Selama 1 Abad, melihat perjalanan Pendidikan Nasional dari sudut pandang Ki Hajar Dewantara mengenai cita-cita sistem Pendidikan Nasional.

Ibu dan Bapak guru, metode pengajaran di zaman kolonial Belanda yang menggunakan sistem pendidikan perintah dan sanksi, tanpa sadar masuk ke dalam warisan cara guru-guru kita mendidik murid-muridnya. Bahkan mungkin sampai saat ini praktek itu masih saja berlangsung. Misalnya masih ditemukan kasus kekerasan pada murid di sekolah. Murid mendapat hukuman atau sanksi ketika mereka belum atau tidak mengerjakan perintah dari guru.

Contoh lain adalah sistem penilaian atau penghargaan yang terlalu berorientasi pada kecakapan kognitif. Misalnya Kapan murid diukur dari hasil ujian sumatif yang menguji kecakapan kognitif semata. Akibatnya murid berusaha keras melatih kecakapannya dengan mengerjakan kisi-kisi soal ujian hingga mendapat nilai dan penghargaan dari sekolah.

Nah fokus pada orientasi kognitif ini menyebabkan perkembangan kecakapan sosial emosional mulai terabaikan. Di sisi lain, jika murid belum mampu memenuhi tuntutan- tuntutan ujian sumatif yang sangat berat tidak jarang murid-murid kita mendapat penghakiman. Mereka ini dianggap gagal dalam belajar.

Sistem pendidikan di zaman kolonial Belanda didasarkan atas diskriminasi yaitu adanya perbedaan perlakuan terhadap anak-anak pribumi untuk mendapatkan pendidikan yang sifatnya masih materialistik individualistik dan intelektualistik. Hal ini bertentangan dengan keadaan dan kebudayaan bangsa timur. Sebagai perlawanan terhadap sistem yang diskriminatif ini Ki Hajar Dewantara menggagas perlunya sebuah sistem pendidikan yang humanis dan transformatif yang dapat memelihara kedamaian dunia.

Ki Hajar Dewantar perkenalkan sistem among yaitu yang dikenal dengan slogannya Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Ing Ngarso Sung tulodo artinya seorang guru haruslah berkomitmen menjadi seorang teladan. Ia harus memberikan contoh yang baik. Ing Madyo Mangun Karso artinya seorang guru haruslah membangkitkan atau menguatkan semangat murid-muridnya bukan orang yang melemahkan semangat. Dan Tut wuri Handayani yaitu seorang guru haruslah memberikan dorongan atau menjadikan murid-muridnya orang-orang yang mandiri atau orang-orang yang merdeka yang tumbuh kembang secara maksimal.

Inilah esensi dari merdeka belajar. Meskipun semboyan ini diingat dengan sangat baik oleh banyak guru dengan istilah Tut Wuri Handayani. Tetapi masih banyak juga yang belum memahami roh dan maknanya, yaitu untuk kemerdekaan murid yang menghidupkan dan menggerakan kekuatan lahir dan batinnya yang kemudian menjadi bagian dari jiwa-jiwa kita sebagai pendidik.

Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan yang sesuai dengan bangsa kita adalah pendidikan yang humanis, kerakyatan, dan kebangsaan.

Pemikiran Ki Hajar Dewantara tersebut adalah gagasan yang melampaui zamannya, dimana beliau hidup dan masih relevan hingga masa sekarang ini. Terbukti atas kepribadian bangsa Indonesia yaitu yang mengandung harkat diri dan kemanusiaan yang menjadi landasan praktek pendidikan saat ini. Tidak hanya di Indonesia tapi juga di negara-negara lain. Maka kita sebagai pendidik harus dapat menghayati pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan yang humanis yang terbukti masih relevan bahkan hingga masa kini dan akan mampu mengantarkan murid siap mengisi zamannya kelak.

Ki Hajar Dewantara melihat bahwa sistem pendidikan di zaman kolonial Belanda ini hanyalah tempat pendidikan pikiran atau rasio yang menyebarkan ilmu pengetahuan dan kecerdasan saja tanpa adanya pendidikan sosial emosional atau tanpa adanya olah rasa. Selain pendidikan kecerdasan atau keterampilan berpikir, pendidikan kultural yaitu pendidikan yang berdasarkan garis bangsa dan budaya. Misalnya dengan menghargai proses belajar murid, merayakan setiap pencapaian pembelajarannya, dan tu sesuai dengan kompetensinya juga sangat dibutuhkan oleh murid.

Pendidikan kultural ini akan melengkapi mempertajam dan memperkaya pendidikan kecerdasan murid. Sifat pendidikan yang intelektualistis materialistis kolonialis dan minimnya pengaruh kebudayaan yang kita alami pada zaman Belanda, jangan sampai terulang kembali. Kita sebagai pendidik perlu menjaganya dengan menyambungkan naluri tradisi dan kontinuitas dengan masa lampau. Model pendidikan dan pengajaran dan pengetahuan atau kecerdasan ala barat mungkin dapat kita gunakan dengan syarat pendidikan kebudayaan dan nasional kita berikan kepada murid demi terwujudnya keluhuran manusia nusa dan bangsa serta menjadi bagian dari kesatuan perikemanusiaan.

Untuk mencapai semua dasar utama yang dicita-citakan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu kemerdekaan setiap murid yang mampu mengatur dirinya sendiri agar murid-murid berperasaan, berpikiran, dan bekerja merdeka dalam ketertiban bersama demi mewujudkan cita-cita Pendidikan Nasional. Pendidikan Nasional yang berdasarkan pada garis-garis kebudayaan bangsanya untuk berkehidupan mengangkat derajat rakyat dan negerinya serta setara bekerjasama dengan bangsa-bangsa lain demi kemuliaan umat manusia di dunia. Maka, pendidikan yang memerdekakan murid lah yang dapat menjadi pegangan kita sebagai pendidik untuk dapat mewujudkannya.

Ibu dan Bapak guru hanya mengandalkan naluri mendidik tidaklah cukup. Kita juga perlu melengkapinya dengan ilmu pendidikan yang selaras dengan zamannya. Tuntunan yang baik kepada murid didasarkan pada panduan atau teori atau pengetahuan tentang tuntunan yang terbaik. Sehingga pendidik dapat memberikan hak-hak kepada murid untuk kesempatan mempelajari ilmu pengetahuan sesuai dengan keinginan dan bakatnya. Agar sebagai pendidik kita dapat memberikan daya upaya yang terbaik dalam mendidik murid. Kita membutuhkan semacam pagar atau pelindung yaitu dukungan dari rakyat atau masyarakat untuk bersama-sama menjaga atau menolak semua bahaya yang mengancam kekuatan kekuatan dan potensi yang sedang tumbuh dari dalam diri murid-murid kita.

Mari kita renungkan Bersama : Apakah kita sudah mempraktekkan pembelajaran sesuai dengan cita-cita sistem Pendidikan Nasional yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara? Langkah apa yang dapat kita lakukan untuk bersama-sama kita bisa mewujudkannya? Salam dan bahagia Ibu dan Bapak guru hebat.


C. Materi Aktivitas "Menjadi Manusia (Secara) Utuh"



Selamat datang kembali di Modul Mendidik dan Mengajar. Kita akan meneruskan Materi Tentang Menjadi Manusia Secara Utuh. Agar kita dapat memahami prinsip dasar untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu menjadi manusia yang seutuhnya berdasarkan pemikiran Ki Hajar Dewantara.

Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa memiliki dua bagian utama pada tubuhnya yaitu badan jasmani atau lahir dan badan rohani atau batin. Atas karunia Tuhan Yang Maha Esa pula, manusia memiliki akal yang digunakan untuk berpikir untuk merasa dan berkarya. Bersatunya pikiran, perasaan, dan kehendak dapat menimbulkan daya dan memunculkan budi pekerti yang menandakannya sebagai manusia merdeka yaitu manusia yang dapat memerintah dan menguasai dirinya atau mandiri dan itulah kodrat sebagai manusia. Sehingga agar manusia mengetahui kebutuhan lahir dan batinnya sendiri, kita sebagai pendidik dapat membantu murid untuk memenuhi kebutuhan keduanya agar mencapai keseimbangan dalam menjalani kehidupan.

Kita tidak bisa membantu memenuhi kebutuhan hanya pada salah satu bagian karena badan lahir dan pendidik badan batin pada manusia tidak dapat dipisahkan dan saling mempengaruhi. Maka pendidikan atau tuntunan seyogyanya mampu memberikan didikan lahir dan didikan batin kepada para murid agar terpenuhi kebutuhan kehidupan dan penghidupannya. Menurut Ki Hajar Dewantara Pendidikan adalah berdaya tempat persemaian benih-benih kebudayaan. Budaya yang hidup dalam masyarakat dan daya upaya untuk memajukan perkembangan budi pekerti pikiran dan jasmani.

Ibu dan Bapak Guru, kebudayaan merupakan hasil budi manusia secara lahir dan batin yang didapat dari perjuangan terhadap dua pengaruh kuat yaitu alam dan zaman pengembangan. Budi pekerti berupa olah pikiran atau olah cipta, olah rasa atau menghaluskan perasaan atau karakter, olah karsa atau menguatkan kemauan, dan olahraga atau menyehatkan jasmani adalah sebuah bentuk pendidikan yang holistik yang akan menuntun bagaimana murid dapat tumbuh kembang secara baik, sekaligus menjadikannya sebagai manusia yang merdeka yaitu manusia yang dapat bersandar atas kekuatan lahir dan batinnya sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain.

Dengan demikian memandang murid sebagai manusia secara utuh harus menjadi dasar kita sebagai pendidik dalam mendampingi murid-murid, menentukan tujuan belajar, merencanakan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan murid baik lahir maupun batin yang akan membantu murid-murid kita mengembangkan kekuatan lahir dan batin. Sebagai pendidik kita tidak cukup hanya membantu memberikan pengajaran yang berorientasi pada penguatan, keterampilan berpikir atau kognitif saja, tetapi juga mendampingi murid-murid untuk mengembangkan kekuatan batinnya yaitu sosial, emosi, empati dan lain sebagainya.

Misalnya guru mengampu pelajaran yang sifatnya pengetahuan kemudian menilai murid dengan menggunakan soal pilihan ganda yang cenderung hanya mengingat informasi yang diberikan. Padahal beragam informasi dan pengetahuan yang diberikan dan dapat diakses dari mesin pencari dari sumber belajar lain yang ada di sekitar murid. Dan dapat dibayangkan ketika seorang guru memberikan soal operasi hitungan bilangan jika ia hanya memberi soal-soal dan menilai hasilnya maka mesin hitung seperti kalkulator bisa juga memproses. Hal yang demikian kekuatan keterampilan berpikir memang benar harus diasah dan ditingkatkan.

Ditingkatkan tetapi agar mencapai keseimbangan menjadi manusia. Murid juga sebaiknya dilatih dan dikuatkan kebutuhan batinnya dalam menentukan tujuan belajarnya mengembangkan kerjasama, membangun empati, menghargai sesama, refleksi diri untuk mengembangkan dirinya dan tentunya berkontribusi di lingkungan sosialnya. Sehingga pembelajaran yang direncanakan sesuai dengan kebutuhan murid dan ditujukan untuk memajukan perkembangan budi pekerti akan membantunya menjadi manusia-manusia yang merdeka.

Manusia Merdeka perlu memiliki modal keterampilan berpikir atau bernalar yang baik. Keterampilan berpikir atau bernalar membutuhkan proses sepanjang hayat. Proses mengasah nalar atau keterampilan berpikir murid menurut Benjamin Bloom dan Anderson yang disebut level kognitif yaitu mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis. Mengevaluasi, dan mencipta. Sesuatu dapat difasilitasi dalam proses pembelajaran di semua jenjang pendidikan paud, dasar menengah dan tinggi.

Dan juga perlu disadari bagi kita sebagai pendidik bahwa semua level kognitif dari mulai mengingat sampai mencipta atau mengkreasi ini dapat dicapai pada semua jenjang pendidikan, dimana kedalaman dan kompleksitas pembelajaran dapat disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan. Beberapa ahli berpendapat proses pembelajaran kepada murid tidak harus dimulai pada tingkat kognitif atau keterampilan berpikir yang mengingat, tapi dapat juga diterapkan pembelajaran yang terintegrasi dengan urutan level kognitif atau keterampilan berpikir yang cocok digunakan dalam pembelajaran. Maka tujuan pendidikan untuk mengasah nalar murid dapat terwujud sebagai bekal pengembangan pendidikan budi pekerti murid.

Mari kita renungkan bersama : Apakah kita sudah menjadikan murid-murid kita manusia seutuhnya? Apakah kita sudah membantu memberikan asupan kebutuhan lahir dan batin murid? dan Bagaimana cara kita untuk mendampingi untuk mengasah keterampilan bernalar murid dengan sebaik-baiknya? Salam dan Bahagia, Ibu dan Bapak Guru Hebat!!!!


Setelah Ibu dan bapak mempelajari seluruh Materi Modul 2, saatnya Ibu dan bapak menjawab pertanyaan pada Latihan Pemahaman dan menuliskan Cerita Reflektif. Berikut ini adalah Referensi Jawaban Latihan Pemahaman dan Cerita Reflektif Pelatihan Mandiri Topik Merdeka Belajar Modul 2 Mendidik dan Mengajar.


Demikian informasi tentang Materi Pelatihan Mandiri Topik Merdeka Belajar Modul 2 yang bisa Sinau-Thewe.com bagikan, semoga ada manfaat didalamnya dan terima kasih.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Materi Pelatihan Mandiri Topik Merdeka Belajar Modul 2"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel